Milisi Houthi dan Pasukan Pro-Saudi Berebut 2 Benteng Utama Yaman

Milisi Houthi melancarkan serangan besar-besaran ke dua benteng pertahanan utama pasukan pro-Saudi di Yaman. Konflik ini berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, intensitas pertempuran kini mencapai puncak baru. Kedua pihak mengerahkan seluruh kekuatan demi menguasai wilayah strategis tersebut.
Dua Benteng Strategis Jadi Rebutan
Milisi Houthi mengincar benteng pertama di Provinsi Marib. Wilayah itu menyimpan cadangan minyak terbesar di Yaman. Selain itu, Marib menjadi markas utama pasukan pro-Saudi. Karena itu, Milisi Houthi menganggap Marib sebagai kunci kemenangan.
Benteng kedua terletak di Provinsi Taiz. Taiz menghubungkan ibu kota Sanaa dengan pelabuhan Aden. Akibatnya, siapa pun yang menguasai Taiz memegang jalur logistik vital. Milisi Houthi pun terus mendesak pasukan pro-Saudi di sana.
Milisi Houthi Gempur Pertahanan Lawan
Milisi Houthi meluncurkan rudal balistik dan drone bunuh diri ke posisi musuh. Serangan itu menghancurkan sejumlah tank dan kendaraan lapis baja. Selanjutnya, pasukan infanteri Milisi Houthi maju ke garis depan. Mereka bertempur jarak dekat di jalanan kota.
Di sisi lain, pasukan pro-Saudi membalas dengan serangan udara. Jet-jet tempur koalisi membombardir lokasi peluncuran rudal Milisi Houthi. Akan tetapi, serangan itu tidak menghentikan laju Milisi Houthi. Sebaliknya, Milisi Houthi memperkuat posisi mereka di perbukitan sekitar Marib.
Korban dan Krisis Kemanusiaan Meluas
Milisi Houthi dan pasukan pro-Saudi sama-sama menanggung kerugian besar. Ratusan tentara tewas dalam baku tembak selama sepekan terakhir. Lebih dari itu, ribuan warga sipil mengungsi ke daerah yang lebih aman. Mereka kehilangan rumah dan mata pencaharian.
Organisasi kemanusiaan menyatakan keprihatinan mendalam. Pasokan makanan dan obat-obatan semakin langka. Akibatnya, anak-anak dan lansia menghadapi risiko kelaparan. Milisi Houthi membatasi akses bantuan ke wilayah yang mereka kuasai. Sementara itu, pasukan pro-Saudi memberlakukan blokade ketat di pelabuhan.
Dampak Regional dan Internasional
Milisi Houthi mendapat dukungan dari Iran. Teheran memasok senjata dan pelatihan militer. Sebaliknya, pasukan pro-Saudi menerima bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris. Karena itu, konflik Yaman berubah menjadi perang proksi antarnegara besar.
PBB berulang kali menyerukan gencatan senjata. Namun, kedua pihak mengabaikan seruan tersebut. Milisi Houthi menuntut pengakuan penuh atas kekuasaan mereka. Di samping itu, pasukan pro-Saudi menolak bernegosiasi sebelum Milisi Houthi mundur dari Marib dan Taiz.
Perebutan Benteng Menentukan Masa Depan Yaman
Milisi Houthi memandang penguasaan dua benteng sebagai jalan menuju kemenangan total. Jika mereka berhasil, Milisi Houthi menguasai sebagian besar Yaman. Sebaliknya, pasukan pro-Saudi berjuang mati-matian mempertahankan posisi. Mereka sadar bahwa kekalahan berarti kehilangan pengaruh di seluruh negeri.
Pertempuran di Marib dan Taiz masih berlangsung sengit. Milisi Houthi terus mengirim bala bantuan. Sementara itu, pasukan pro-Saudi memperkuat pertahanan udara. Hingga kini, tidak ada tanda-tanda gencatan senjata. Rakyat Yaman menanggung beban terberat dari ambisi kedua pihak.
Kesimpulan
Milisi Houthi dan pasukan pro-Saudi memperebutkan dua benteng utama di Yaman. Perebutan ini memicu korban jiwa dan krisis kemanusiaan. Masyarakat internasional mendesak perdamaian. Namun, kedua pihak bersikeras melanjutkan perang. Pada akhirnya, rakyat Yaman menanti akhir konflik yang tak kunjung usai.
Sumber referensi: Milisi Houthi, Konflik Yaman, Perang Proksi.
Baca Juga:
Profil Phra Wachirayan Wi: Biksu Korupsi Rp49 Miliar